Korban Ghosting Semestinya Tidak Menyalahkan Diri Sendiri

  • Bagikan
Korban Ghosting Semestinya Tidak Menyalahkan Diri Sendiri

Ilustrasi korban ghosting. Foto: Shutter Stock
Ghosting terjadi antara dua orang yang menjalin kedekatan, namun tiba-tiba salah satu pihak menghilang tanpa jejak, dan memutus komunikasi tanpa alasan jelas.

Hal ini biasanya membuat korban ghosting bertanya-tanya sampai menyalahkan diri sendiri.

Korban Ghosting Tak Perlu Merasa Bersalah

Namun menurut dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Ilham Nur Alfian, korban tidak perlu merasa bersalah karena ghosting fenomena yang wajar dalam sebuah hubungan.

“Justru aspek-aspek semacam itu dihilangkan. Jadi untuk korban ghosting seharusnya tidak menyalahkan diri sendiri. Situasi semacam ini umum dalam sebuah relasi,” kata dia, dilansir laman Unair.

Ilham bilang fenomena tersebut sudah ada bahkan sebelum munculnya pola komunikasi media sosial.

“Jadi ada situasi ketika seseorang memutus hubungan atau komunikasi karena beberapa alasan. Bisa jadi salah satunya sudah enggak merasa nyaman lagi dengan pasangannya,” katanya.

Ilustrasi perempuan sedih susah move on. Foto: Shutterstock

Situasi pandemi juga punya pengaruh tersendiri dalam pola komunikasi. Permasalahan ghosting dapat muncul begitu saja di situasi ini, karena orang merasa tidak ada sesuatu yang bervariasi dalam proses interaksi jika tidak dilakukan secara langsung.

“Harus siap secara mental dalam komunikasi tidak langsung atau secara virtual. Peluang cepat merasa jenuh pasti ada,” ucap dia.

Ilham menambahkan, hal terpenting untuk korban ghosting adalah tetap menumbuhkan kepercayaan bahwa ada orang-orang yang lebih baik untuknya.

Sumber Kumparan

banner 120x600
  • Bagikan