Pemerintah India Selidiki Angka Kematian Corona di Bihar Mendadak Naik Drastis

  • Bagikan
Pemerintah India Selidiki Angka Kematian Corona di Bihar Mendadak Naik Drastis

Keluarga menyiapkan tumpukan kayu untuk mengkremasi jenazah pasien COVID-19 di sebuah krematorium di New Delhi, India, Senin (26/4). Foto: Adnan Abidi/Reuters

Sebuah negara bagian India, Bihar, mencatatkan kenaikan angka kematian akibat virus corona secara drastis dan mendadak pada Rabu (9/6). Hal ini dilakukan Bihar setelah mereka menemukan ribuan kasus kematian corona yang sebelumnya tidak dilaporkan.

Mengutip Reuters, departemen kesehatan di Bihar merevisi total angka kematian terkait COVID-19 di wilayahnya menjadi lebih dari 9.429 kasus pada Rabu. Semula, mereka hanya melaporkan ada sekitar 5.424 kasus kematian hari itu.

Lebih rinci, seorang pejabat kesehatan distrik di Bihar mengatakan kematian yang baru dilaporkan itu faktanya terjadi bulan lalu. Oleh sebab itu, para pejabat negara sedang menyelidiki penyimpangan data ini.

Khususnya soal pengawasan di rumah sakit swasta di salah satu negara bagian termiskin di India itu.

“Kematian ini terjadi 15 hari yang lalu dan baru diunggah sekarang di portal pemerintah. Beberapa rumah sakit swasta akan ditindak,” kata pejabat itu pada Kamis (10/6), yang menolak disebutkan namanya.

Akibatnya muncul kecurigaan bahwa banyak angka kematian di India yang tidak dilaporkan. Angka kematian resmi yang saat ini dirilis pemerintah India diduga jauh lebih banyak dari jumlah yang sudah cukup fantastis.

Pemerintah India Selidiki Angka Kematian Corona di Bihar Mendadak Naik Drastis (1)
Suasana di lokasi krematorium di New Delhi, India, Senin (26/4). Foto: Adnan Abidi/Reuters

Menanggapi ini, sejumlah pakar kesehatan beranggapan baik kenaikan infeksi virus corona dan kematian secara signifikan dianggap enteng oleh India. Fasilitas tes corona jarang ada di daerah pedesaan di mana dua pertiga penduduk India tinggal, sementara rumah sakit pun sedikit dan jarang.

Banyak pula orang India jatuh sakit dan meninggal di rumah mereka tanpa dites virus corona.

Sejak April dan Mei, India memang tengah kewalahan menghadapi gelombang kedua COVID-19. Rumah sakit India kehabisan tempat tidur dan oksigen, sementara orang-orang meninggal di tempat parkir luar rumah sakit dan di rumah mereka.

Para dokter dan pakar kesehatan percaya, banyak dari kematian itu tidak tercatat dalam penghitungan COVID-19.

Apalagi krematorium juga kewalahan untuk menangani gelombang kematian selama dua bulan terakhir.

Karena tak dapat dikremasi, banyak keluarga yang menempatkan jasad di sungai suci Gangga atau menguburnya di bawah gundukan pasir dangkal. Orang-orang ini kemungkinan besar juga tidak terdaftar sebagai korban COVID-19.

“Kekurangan pelaporan adalah masalah yang luas. Tidak selalu disengaja. Seringkali karena ketidakcukupan,” kata Kepala Pusat Pengobatan Sosial dan Kesehatan Masyarakat di Universitas Jawaharlal Nehru New Delhi, Rajib Dasgupta.

“Dalam konteks pedesaan, apa pun yang dikatakan atau diklaim oleh negara bagian, pengujian tidak sederhana, mudah, atau dapat diakses,” imbuh dia.

India adalah negara dengan infeksi COVID-19 tertinggi kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Secara umum, kasus dan kematian di India terus menurun dalam beberapa minggu terakhir setelah melonjak dari pertengahan Maret.

Menurut data Kementerian Kesehatan, per Kamis, mereka telah mencatatkan 29,2 juta kasus corona setelah ada penambahan 94.052 kasus dalam 24 jam sebelumnya. Sementara total kematian mencapai 359.676 kasus.

Tetapi, The New York Times memperkirakan kematian COVID-19 di India sudah mencapai 600 ribu hingga 16 juta kasus. Hal ini ditinjau berdasarkan jumlah kematian dari waktu ke waktu dan tingkat kematian akibat infeksi di India hingga saat ini.

Menurut pemerintah, perkiraan itu adalah sesuatu yang dilebih-lebihkan. Namun partai oposisi utama Kongres setuju bahwa negara bagian lain harus mengikuti contoh Bihar, dan melakukan peninjauan ulang angka kematian selama dua bulan terakhir.

“Ini bukti kuat bahwa pemerintah telah menyembunyikan angka kematian akibat COVID. Audit juga harus dilakukan di negara bagian besar Uttar Pradesh, Madhya Pradesh, dan Gujarat,” kata juru bicara Kongres, Shama Mohamed.

Sumber Kumparan

banner 120x600
  • Bagikan